jikalah DERITA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang KETEGARAN akan lebih indah dikenang nanti.
Jikalah KESEDIHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak DINIKMATI saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.
Jikalah LUKA dan KECEWA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang KETABAHAN dan KESABARAN adalah lebih utama.
Jikalah KEBENCIAN dan KEMARAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang MENAHAN DIRI adalah lebih berpahala.
Jikalah KESALAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang TAUBAT itu lebih utama.
Jikalah HARTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang KEDERMAWANAN justru akan melipatgandakannya.
Jikalah KEPANDAIAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta MEMIMPIN dunia agar sejahtera.
Jikalah CINTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang MEMBERI akan lebih banyak menuai arti.
Jikalah BAHAGIA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang BERBAGI akan membuatnya lebih bermakna.
Jikalah HIDUP akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak KEBAIKAN bisa DICIPTA.
(Tulisan ini ku dedikasikan buat teman-temanku tercinta, sahabatku, dan orang-orang yang telah mengenalku)
Kamis, 24 November 2011
Minggu, 20 November 2011
Sepiku..^_^
Dalam diam jiwaku terpaku
Sendiri renungi masa lalu
Dengan secarik kertas di hadapanku
Tertulis sajak indah tentang masa lalu
Senyum bagai rembulan terpancar di wajahmu
Kerlip bagai bintang bersinar di matamu
Mentari pagi bagai dirimu, hangatkanku
Kau seindah lukisan senja di hatiku
Hujan malam ini ingatkanku padamu
Saat dingin membelenggu,ku peluk dirimu
Saat gelap menerpa, aku melindungimu
Saat kau terjatuh, akulah peganganmu
Berharap kau bahagia d sana tanpa diriku
Sendiri jalani hidup dengan mengingatku, disini...
Aku mengenangmu, menantimu, dan merindukanmu
Aku beralan tuk mencintai kesendirian
Menyayangi sepi yang menemaniku hari ini
Aku belajar tuk menemukan makna hidup
Mengerti hikmah dari kesendirian
Agar esok aku belajar dari masa lalu
Bahwa menjaga kepercayaan itu sulit
Mengerti cinta itu tidaklah mudah...
(Telat diposkan,,,, beberapa waktu yang lalu...)
Sendiri renungi masa lalu
Dengan secarik kertas di hadapanku
Tertulis sajak indah tentang masa lalu
Senyum bagai rembulan terpancar di wajahmu
Kerlip bagai bintang bersinar di matamu
Mentari pagi bagai dirimu, hangatkanku
Kau seindah lukisan senja di hatiku
Hujan malam ini ingatkanku padamu
Saat dingin membelenggu,ku peluk dirimu
Saat gelap menerpa, aku melindungimu
Saat kau terjatuh, akulah peganganmu
Berharap kau bahagia d sana tanpa diriku
Sendiri jalani hidup dengan mengingatku, disini...
Aku mengenangmu, menantimu, dan merindukanmu
Aku beralan tuk mencintai kesendirian
Menyayangi sepi yang menemaniku hari ini
Aku belajar tuk menemukan makna hidup
Mengerti hikmah dari kesendirian
Agar esok aku belajar dari masa lalu
Bahwa menjaga kepercayaan itu sulit
Mengerti cinta itu tidaklah mudah...
(Telat diposkan,,,, beberapa waktu yang lalu...)
"Teruntuk Hati Yang Tak Lelah Memberi Arti"
Bagiku yang semakin hari semakin mencintainya
Ya..... Entah tak bisa kudefinisikan lagi
Kalaulah ini bukan cinta, lalu apa?
Sungguh...
Memilikimu adalah anugerah terindah untukku dalam persinggahanku
Sementara embun bertengger pada dahanku, dedaunan basa
Di saat mentari pagi malu-malu menyapa
Ya, kau...
Siapa lagi?
Tak perlukau tengok kanan kiri
Karena
Tenga dari lama aku menatap wajahmu
Yang indah itu
Hm...
Satu hal yang harus kau ketahui
Bahwa aku mencintaimu
bahkan lebih dari yang kau tau
Sungguh...
Allah Maha Baik
Karena Ia telah mengirimmu
Untukku...
Jogja, Di saat langit malam sepi tanpa bintang gemintang
Ya..... Entah tak bisa kudefinisikan lagi
Kalaulah ini bukan cinta, lalu apa?
Sungguh...
Memilikimu adalah anugerah terindah untukku dalam persinggahanku
Sementara embun bertengger pada dahanku, dedaunan basa
Di saat mentari pagi malu-malu menyapa
Ya, kau...
Siapa lagi?
Tak perlukau tengok kanan kiri
Karena
Tenga dari lama aku menatap wajahmu
Yang indah itu
Hm...
Satu hal yang harus kau ketahui
Bahwa aku mencintaimu
bahkan lebih dari yang kau tau
Sungguh...
Allah Maha Baik
Karena Ia telah mengirimmu
Untukku...
Jogja, Di saat langit malam sepi tanpa bintang gemintang
Menatap Langit Senja
Dia itu seperti seseorang
Yang matanya seperti puisi
Menyiratkan ribuan kata dan makna
Seseorang dengan matanya yang ajaib
Aku gak tau rasa apa yang berdesing di dada
Waktu melihat dia pertama kali
Semacam perasaan yang terlalu indah untuk diekspresikan
Pertemuan itu terlalu sebentar
Tapi, perasaan itu mengurungku
Seolah aku sudah bertahun-tahun merindukannya
Ahh...
Dia terlalu indah untuk diceritakan
Mungkin ini yang namanya " Love at The First Sight"
Yang matanya seperti puisi
Menyiratkan ribuan kata dan makna
Seseorang dengan matanya yang ajaib
Aku gak tau rasa apa yang berdesing di dada
Waktu melihat dia pertama kali
Semacam perasaan yang terlalu indah untuk diekspresikan
Pertemuan itu terlalu sebentar
Tapi, perasaan itu mengurungku
Seolah aku sudah bertahun-tahun merindukannya
Ahh...
Dia terlalu indah untuk diceritakan
Mungkin ini yang namanya " Love at The First Sight"
Sabtu, 12 November 2011
Pintaku...
Jika kau bukan untukku
mengapa hadirmu menjadi cinta dalam hidupku?
Kusadari langkahku yang inginkanmu lebih dari yang kau tahu
Tapi, hati ini tak mau mencintai dan menyayangi selain dirimu.
Tolong yakinkah aku!
Bahwa diriku bukan seseorang yg kamu impikan
dan bukan yang kau harapkan untuk kau miliki dalam kisah cintamu
Maafkan aku yang mengenalmu
Karena dengan mengenalmu aku mencintaimu
Karena dengan mengenalmu aku menyakiti hatimu
Aku bukan cinta yang kau harapkan dan mesti ku tak mampu memilikimu
Aku tetap menyayangi mu sebatas yang aku mampu
Untuk merindukanmu disetiap helai nafasku
Menyayangimu bukan berarti ku harus milikimu seutuhnya
Biarlah kau tak bisa ku miliki untuk selamanya
Asal kau bahagia dengan apa yang kau miliki
Yang tak kau temukan dariku
Semoga kau bahagia
Amin....
Barek, Saat Jogja mulai diguyuri hujan
(Numpang corat-coret kisah anak kosan,, maap ...
mengapa hadirmu menjadi cinta dalam hidupku?
Kusadari langkahku yang inginkanmu lebih dari yang kau tahu
Tapi, hati ini tak mau mencintai dan menyayangi selain dirimu.
Tolong yakinkah aku!
Bahwa diriku bukan seseorang yg kamu impikan
dan bukan yang kau harapkan untuk kau miliki dalam kisah cintamu
Maafkan aku yang mengenalmu
Karena dengan mengenalmu aku mencintaimu
Karena dengan mengenalmu aku menyakiti hatimu
Aku bukan cinta yang kau harapkan dan mesti ku tak mampu memilikimu
Aku tetap menyayangi mu sebatas yang aku mampu
Untuk merindukanmu disetiap helai nafasku
Menyayangimu bukan berarti ku harus milikimu seutuhnya
Biarlah kau tak bisa ku miliki untuk selamanya
Asal kau bahagia dengan apa yang kau miliki
Yang tak kau temukan dariku
Semoga kau bahagia
Amin....
Barek, Saat Jogja mulai diguyuri hujan
(Numpang corat-coret kisah anak kosan,, maap ...
"Indahnya Caramu Mendewasakanku"
Di hadapanku… terbentang sebuah jalan panjang… Yang tak selalu lurus… tapi sesekali ada belokan tajam…
Jalan yang yang tak hanya dikelilingi bunga, tapi juga bertabur duri dan kerikil… Sesekali… kakiku tersandung… lalu aku terjatuh…
Tapi.. aku tak mau… memar di kakiku menjadi alasan untukku tak bangkit lagi berdiri…
Langit….
Bahkan tak selalu biru…. Terkadang mendung menjadikannya abu-abu…
Tapi… biarlah mendung menggantung…
Karena aku tahu… angin akan membuatnya berarak pergi menjauh dari langit biruku…
Ahh… ternyata…
Takdir Tuhan… tak selalu begitu…. Angin tak membawanya pergi….
Tapi… perlahan-lahan…. Kurasakan tetesan air… yang kemudian menderas….
Sakit….
Kurasakan tiap tetesannya mengenai wajahku…. Mungkin Tuhan ingin menghapus laraku… dengan hujan itu…
Walau terkadang aku tak selalu bijak… untuk bisa mengerti… Kalau ada kasih Tuhan… dalam tiap rintikan hujan…
Kembali aku mengaduh… berkeluh…. tiada henti…
Betapa kecil arti diri ini…. Bila tak kepadaMu aku berserah diri….
Lantas pada siapa lagi lisan ini berucap dan tangan ini menengadah….
Sungguh… aku tak pantas…. Sungguh… sudah sekian kali banyaknya kudustakan nikmatMu…. Rabbi…
Aku percaya…. Pada janjiMu…
Bahwa setelah tangisku… pasti akan Kau ukir senyum di wajahku…
Aku pun tahu…. Mendung menggantung dan hujan menderas… tak akan selalu ada di langit biruku…
Karena setelahnya…. akan Kau lukis pelangi… di kaki langit….
Dan dengan pelangi itulah… Kau tunjukkan ada sebuah keindahan menantiku setelah mendung dan hujan itu…
Kau lah sebaik-baik penawar dukaku… Penyembuh sedihku….
Terimakasih Rabbi…
Jalan yang yang tak hanya dikelilingi bunga, tapi juga bertabur duri dan kerikil… Sesekali… kakiku tersandung… lalu aku terjatuh…
Tapi.. aku tak mau… memar di kakiku menjadi alasan untukku tak bangkit lagi berdiri…
Langit….
Bahkan tak selalu biru…. Terkadang mendung menjadikannya abu-abu…
Tapi… biarlah mendung menggantung…
Karena aku tahu… angin akan membuatnya berarak pergi menjauh dari langit biruku…
Ahh… ternyata…
Takdir Tuhan… tak selalu begitu…. Angin tak membawanya pergi….
Tapi… perlahan-lahan…. Kurasakan tetesan air… yang kemudian menderas….
Sakit….
Kurasakan tiap tetesannya mengenai wajahku…. Mungkin Tuhan ingin menghapus laraku… dengan hujan itu…
Walau terkadang aku tak selalu bijak… untuk bisa mengerti… Kalau ada kasih Tuhan… dalam tiap rintikan hujan…
Kembali aku mengaduh… berkeluh…. tiada henti…
Betapa kecil arti diri ini…. Bila tak kepadaMu aku berserah diri….
Lantas pada siapa lagi lisan ini berucap dan tangan ini menengadah….
Sungguh… aku tak pantas…. Sungguh… sudah sekian kali banyaknya kudustakan nikmatMu…. Rabbi…
Aku percaya…. Pada janjiMu…
Bahwa setelah tangisku… pasti akan Kau ukir senyum di wajahku…
Aku pun tahu…. Mendung menggantung dan hujan menderas… tak akan selalu ada di langit biruku…
Karena setelahnya…. akan Kau lukis pelangi… di kaki langit….
Dan dengan pelangi itulah… Kau tunjukkan ada sebuah keindahan menantiku setelah mendung dan hujan itu…
Kau lah sebaik-baik penawar dukaku… Penyembuh sedihku….
Terimakasih Rabbi…
Jumat, 11 November 2011
Untukmu Seorang Sahabat
Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh.
Dan manusia hanyalah butir pasir berserak di hamparan zaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus.
Dan mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat; Mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita kira dan angankan.
Walau sungguh pun waktu berkuasa, persahabatan sejati takkan mudah pudar olehnya.
Akan kenangan saat mimpi-mimpi bersemi semerbak, dan akan kenangan saat mimpi-mimpi terhempas berkeping di jalan berlubang kehidupan — dan kau ada di sana sebagai sahabat yang memahami segala keluh kesah. Atas kebaikan yang mungkin tidak kau sadari, oleh sekedar canda yang membuat hidup ini lebih memiliki arti; menjauhkan rasa nyeri sedari.
Dan sahabat, jika apa yang kita miliki memang persahabatan yang tulus, maka ada tali silaturahmi yang mesti kita jaga. Walau jarak merenggangkan ikatan, dan harapan-harapan membawa kita berlayar ke negeri-negeri asing; ketahuilah bahwa ada seorang sahabat yang akan membantumu jika engkau membutuhkannya.
Kado ini tak lebih berharga ketimbang kebaikanmu selama ini. Hanya sekeping tanda mata agar kau tak lupa, bahwa aku bahagia memiliki seorang sahabat sepertimu
Ku telusuri jalan setapak, ku rambah belukar tak bertuan, bahkan ketika matahari tidak bersinar lagi siluet dirimu dalam keremangan senja selalu tersimpan dalam hatiku.
Semoga kau tak pernah bosan seperti laut merangkul matahari di setiap senja...
Jazakallahu Khoiran Katsiran...
Renungan
Saudaraku...
Siapa yang akan menyolatkan jenazahmu kelak?
Apakah engkau sudah memilih orang-orang yang akan berdiri mengisi shof-shof di belakang jenazahmu untuk menyolatkanmu?
Pertanyaan yang mungkin terdengar aneh dan membingungkan
Apa mungkin kita memilih itu? Apakah kita pantas untuk memilih orang yang akan menyelamatkan kita?
Jangan gusar saudaraku, sabar… buka hatimu sebelum membuka mata dan telingamu!
Sudah menjadi kebiasaan bahwasanya yang akan menyolatkan jenazahmu adalah mereka yang engkau cintai dan teman-temanmu, bukankah begitu?
Sekarang coba lihat orang2 di sekelilingmu, lihatlah teman2 dekatmu, siapa diantara mereka yang pantas untuk menyolatkanmu?
Saudaraku, jangan menutup mata dari realita yang ada dan jangan sumbat telingamu dari nasehat yang berharga, bisa jadi kenyataan yang memang pahit & nasehat yang akan engkau dengar menyakitkan. Lapangkanlah dadamu semoga Allah ta’ala memberkahimu
Saudaraku, kita harus menelan pahitnya permasalahan ini, karena itu dari pada kita menelan akibatnya di hari kiamat, dimana tak mungkin lagi mengulangi kehidupan di dunia.
Saudaraku...
Siapa yang akan memandikanmu?
Siapa yang akan mengkafanimu?
Siapa yang akan mengangkat kerandamu?
Siapa yang akan menyolatkanmu?
Siapa yang akan meletakkanmu di liang lahat?
Siapa yang akan mendoakanmu?
Siapa yang akan berdiri di sisi kuburanmu, berdoa untukmu agar Allah meneguhkanmu ketika malaikat menanyaimu?
Jawablah wahai saudaraku!
Siapa yang akan menangisimu?
Apakah perokok itu?
Ataukah orang yang tidak mau tunduk dan sholat kepada Rabbnya ini?
Ataukah orang yang meninggalkan puasa dan zakat ini?
Ataukah orang yang bergelimang maksiat dan dosa besar?
Siapakah orang yang engkau inginkan menangisi kematianmu?
Apakah temanmu yang mengajakmu ke tempat-tempat minuman keras, ataukah orang yang mengajakmu ke majelis-majelis ilmu?
atau orang yang membukakan untukmu lembaran-lembaran mushaf Al-Quran?
Saudaraku!
Siapa teman dekat dan sahabat karibmu? Kami bantu engkau untuk memilih sahabat atau teman yang akan menyolatkan jenazahmu esok.
Rasulullah bersabda : “janganlah bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa
Beliau bersabda :” perumpamaan teman baik & teman buruk itu laksana berteman dgn penjual minyak wangi & pandai besi. Seorang penjual minyak wangi engkau bias membeli darinya atau setidaknya mendptkan aromanya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakainmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap
Cobalah engkau renungkan buah dari persahabatan yang baik dengan orang yang baik di dunia sebelum manfaatnya di akhirat
Rasulullah bersabda : “ Tidaklah seorang muslim wafat, lalu berdiri menyolatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun melainkan Allah jadikan mereka sebagai syafaat baginya [HR. Muslim]
Saudaraku, kesempatan masih terbentang di hadapanmu
Tidakkah engkau melihat jenazah dan orang-orang yang berjalan mengiringi di belakangnya, keadaan mereka sama seperti keadaan si mayit. Bukan itu kenyataan yang ada?
Bahkan engkau melihat, orang yang mengantar jenazahmu ini bisa jadi tidak ikut menyolatkanmu, akan tetapi ia menunggu di luar masjid. Apabila orang selesai menyolatkanmu dia ikut memasukanmu ke liang lahat, bukankah ini realita yang menyedihkan yang kita saksikan? Bahkan engkau menyolatkan jenazah salah seorang temanmu yang engkau antar
Mungkin engkau akan menyatakan, lantas apa yang harus aku tempuh?
Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha, semoga Robb kamu mengampuni dosa-dosamu dan memasukanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai
Ya Allah, tunjukanlah kami jalan yang lurus dan kumpulkan kami kelak di hari kiamat bersama para nabi, siddiqin, syuhada, orang-orang sholeh dan merekalah sebaik-baik teman..
Allahuma amiiiiin…………
Siapa yang akan menyolatkan jenazahmu kelak?
Apakah engkau sudah memilih orang-orang yang akan berdiri mengisi shof-shof di belakang jenazahmu untuk menyolatkanmu?
Pertanyaan yang mungkin terdengar aneh dan membingungkan
Apa mungkin kita memilih itu? Apakah kita pantas untuk memilih orang yang akan menyelamatkan kita?
Jangan gusar saudaraku, sabar… buka hatimu sebelum membuka mata dan telingamu!
Sudah menjadi kebiasaan bahwasanya yang akan menyolatkan jenazahmu adalah mereka yang engkau cintai dan teman-temanmu, bukankah begitu?
Sekarang coba lihat orang2 di sekelilingmu, lihatlah teman2 dekatmu, siapa diantara mereka yang pantas untuk menyolatkanmu?
Saudaraku, jangan menutup mata dari realita yang ada dan jangan sumbat telingamu dari nasehat yang berharga, bisa jadi kenyataan yang memang pahit & nasehat yang akan engkau dengar menyakitkan. Lapangkanlah dadamu semoga Allah ta’ala memberkahimu
Saudaraku, kita harus menelan pahitnya permasalahan ini, karena itu dari pada kita menelan akibatnya di hari kiamat, dimana tak mungkin lagi mengulangi kehidupan di dunia.
Saudaraku...
Siapa yang akan memandikanmu?
Siapa yang akan mengkafanimu?
Siapa yang akan mengangkat kerandamu?
Siapa yang akan menyolatkanmu?
Siapa yang akan meletakkanmu di liang lahat?
Siapa yang akan mendoakanmu?
Siapa yang akan berdiri di sisi kuburanmu, berdoa untukmu agar Allah meneguhkanmu ketika malaikat menanyaimu?
Jawablah wahai saudaraku!
Siapa yang akan menangisimu?
Apakah perokok itu?
Ataukah orang yang tidak mau tunduk dan sholat kepada Rabbnya ini?
Ataukah orang yang meninggalkan puasa dan zakat ini?
Ataukah orang yang bergelimang maksiat dan dosa besar?
Siapakah orang yang engkau inginkan menangisi kematianmu?
Apakah temanmu yang mengajakmu ke tempat-tempat minuman keras, ataukah orang yang mengajakmu ke majelis-majelis ilmu?
atau orang yang membukakan untukmu lembaran-lembaran mushaf Al-Quran?
Saudaraku!
Siapa teman dekat dan sahabat karibmu? Kami bantu engkau untuk memilih sahabat atau teman yang akan menyolatkan jenazahmu esok.
Rasulullah bersabda : “janganlah bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa
Beliau bersabda :” perumpamaan teman baik & teman buruk itu laksana berteman dgn penjual minyak wangi & pandai besi. Seorang penjual minyak wangi engkau bias membeli darinya atau setidaknya mendptkan aromanya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakainmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap
Cobalah engkau renungkan buah dari persahabatan yang baik dengan orang yang baik di dunia sebelum manfaatnya di akhirat
Rasulullah bersabda : “ Tidaklah seorang muslim wafat, lalu berdiri menyolatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun melainkan Allah jadikan mereka sebagai syafaat baginya [HR. Muslim]
Saudaraku, kesempatan masih terbentang di hadapanmu
Tidakkah engkau melihat jenazah dan orang-orang yang berjalan mengiringi di belakangnya, keadaan mereka sama seperti keadaan si mayit. Bukan itu kenyataan yang ada?
Bahkan engkau melihat, orang yang mengantar jenazahmu ini bisa jadi tidak ikut menyolatkanmu, akan tetapi ia menunggu di luar masjid. Apabila orang selesai menyolatkanmu dia ikut memasukanmu ke liang lahat, bukankah ini realita yang menyedihkan yang kita saksikan? Bahkan engkau menyolatkan jenazah salah seorang temanmu yang engkau antar
Mungkin engkau akan menyatakan, lantas apa yang harus aku tempuh?
Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha, semoga Robb kamu mengampuni dosa-dosamu dan memasukanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai
Ya Allah, tunjukanlah kami jalan yang lurus dan kumpulkan kami kelak di hari kiamat bersama para nabi, siddiqin, syuhada, orang-orang sholeh dan merekalah sebaik-baik teman..
Allahuma amiiiiin…………
Kamis, 10 November 2011
Surat Cintaku
Maaf sebelumnya, mungkin kamu anggap aku pengecut, atau menganggapnya suatu kelancangan. Sehingga tak berani memberikan surat ini secara langsung. Namun bagaimana juga, aku tak akan mungkin terus berdiam diri, sementara hatiku setiap waktu terus tersiksa. Maka setelah sekian lama ku terbelenggu dalam ketidakpastian yang teramat menyiksa jiwa dan pikiran akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri, mencurahkan segenap rasa yang ada dihatiku sama kamu lewat surat ini.
Entahlah dari mana awalnya, semenjak pertemuan kita yang telah berulang kali, hapir tak sekejap mata pun aku bisa melupakan bayanganmu. Aku senantiasa teringat kamu. Sama senyummu, sama kelembutan tutur katamu, sama semua yang ada pada dirimu. Berulang kali aku mencoba untuk menyadari dan meyakinkan diri, bahwa tak pantas bagiku untuk berhayal dan berharap menjadi seseorang yang berarti buat kamu. Namun rupanya, jiwa ini tak mau mengerti. Jiwaku terus memberontak, terus mencari nurani yang membuatku semakin tersiksa dan menderita.
Aku tak tau apa yang ada dibenakmu saat ini, aku juga tak tau apakah di taman hatimu masih kosong, sehingga aku bisa menanam sekuntum bunga cintaku atau justru di taman hatimu telah tumbuh bunga cinta yang lain. Karena itu, bila ternyata apa yang aku lakukan ini kamu anggap suatu kelancangan dan kesalahan, serta menurutmu aku ini terlalu bermimpi, berharap yang berlebihan tanpa mau berkaca diri, sekali lagi tolong maafkan aku.
Rasa cinta, memang kadang membuat orang jadi buta hatinya. Dan kini aku baru menyadarinya. Tipa saat, tiap waktu, tiap menit, tiap detik, jiwaku terus menggelora . sehingga aku pun bertanya seperti inikah yang namanya jatuh cinta? Ah, kiranya aku tak terlalu muluk-muluk melambungkan hayal, yang jika jatuh akan membuat hati hancur berkeping-keping bahkan mungkin menjadi serpihan tajam, yang kian menusuk sanubari.
Mungkin ini adalah hari terakhir pertemuan kita di kota ini. Sebab aku akan pergi, entah kemana. Aku tak tau, karena aku hanya akan mengikuti kata hati dan nuraniku.
Mulanya aku bermaksud untuk tetap bertahan di kota ini, namun aku pikir untuk apa? Tak ada yang bisa diharapkan disini. Karena orang yang aku cintai ternyata hatinya sudah membeku dan tak bisa dicairkan.
Meskipun kamu tak bisa menerima dan membalas cintaku, namun aku berharap kiranya kamu mengizinkan aku untuk membawa cintaku yang tulus ini dan sepenuh hati ini pergi. Biarlah kebersamaan kita selama ini, akan aku jadikan kenangan indah setiap waktu dan senantiasa mengingatkan aku padamu.
Aku memang terlalu naïf. Aku harusnya bercermin dan mengukur diri dulu, sebelum berkhayal dan berharap mampu memetik bintang. Aku semestinya sadar, kalau aku hanyalah si punguk. Manalah mungkin aku akan bisa memetik bintang yang tinggi di langit sana...
Sekali lagi, aku mohon maaf atas kelancangan yang telah aku tunjukkan sama kamu. Aku berharap dengan maaf dari kamu, langkahku akan jadi mudah
Selamat tinggal dewi pujaan…
Doaku semoga kamu akan selalu dalam kebahagiaan dan akan mendapatkan cinta dari seseorang sebagaimana yang kamu idam-idamkan.
Yang tercuri hatinya
Entahlah dari mana awalnya, semenjak pertemuan kita yang telah berulang kali, hapir tak sekejap mata pun aku bisa melupakan bayanganmu. Aku senantiasa teringat kamu. Sama senyummu, sama kelembutan tutur katamu, sama semua yang ada pada dirimu. Berulang kali aku mencoba untuk menyadari dan meyakinkan diri, bahwa tak pantas bagiku untuk berhayal dan berharap menjadi seseorang yang berarti buat kamu. Namun rupanya, jiwa ini tak mau mengerti. Jiwaku terus memberontak, terus mencari nurani yang membuatku semakin tersiksa dan menderita.
Aku tak tau apa yang ada dibenakmu saat ini, aku juga tak tau apakah di taman hatimu masih kosong, sehingga aku bisa menanam sekuntum bunga cintaku atau justru di taman hatimu telah tumbuh bunga cinta yang lain. Karena itu, bila ternyata apa yang aku lakukan ini kamu anggap suatu kelancangan dan kesalahan, serta menurutmu aku ini terlalu bermimpi, berharap yang berlebihan tanpa mau berkaca diri, sekali lagi tolong maafkan aku.
Rasa cinta, memang kadang membuat orang jadi buta hatinya. Dan kini aku baru menyadarinya. Tipa saat, tiap waktu, tiap menit, tiap detik, jiwaku terus menggelora . sehingga aku pun bertanya seperti inikah yang namanya jatuh cinta? Ah, kiranya aku tak terlalu muluk-muluk melambungkan hayal, yang jika jatuh akan membuat hati hancur berkeping-keping bahkan mungkin menjadi serpihan tajam, yang kian menusuk sanubari.
Mungkin ini adalah hari terakhir pertemuan kita di kota ini. Sebab aku akan pergi, entah kemana. Aku tak tau, karena aku hanya akan mengikuti kata hati dan nuraniku.
Mulanya aku bermaksud untuk tetap bertahan di kota ini, namun aku pikir untuk apa? Tak ada yang bisa diharapkan disini. Karena orang yang aku cintai ternyata hatinya sudah membeku dan tak bisa dicairkan.
Meskipun kamu tak bisa menerima dan membalas cintaku, namun aku berharap kiranya kamu mengizinkan aku untuk membawa cintaku yang tulus ini dan sepenuh hati ini pergi. Biarlah kebersamaan kita selama ini, akan aku jadikan kenangan indah setiap waktu dan senantiasa mengingatkan aku padamu.
Aku memang terlalu naïf. Aku harusnya bercermin dan mengukur diri dulu, sebelum berkhayal dan berharap mampu memetik bintang. Aku semestinya sadar, kalau aku hanyalah si punguk. Manalah mungkin aku akan bisa memetik bintang yang tinggi di langit sana...
Sekali lagi, aku mohon maaf atas kelancangan yang telah aku tunjukkan sama kamu. Aku berharap dengan maaf dari kamu, langkahku akan jadi mudah
Selamat tinggal dewi pujaan…
Doaku semoga kamu akan selalu dalam kebahagiaan dan akan mendapatkan cinta dari seseorang sebagaimana yang kamu idam-idamkan.
Yang tercuri hatinya
Selasa, 08 November 2011
"Happy I'edul Adha Day"
Hm...lebaran perdana di jogja..
awal yangg cukup berat jika diingat-ingat,
Sementara ribuan kilometer di sebelah tenggara Sulawesi saudara-saudaraku sedang bergembira ria berkumpul menikmati suasana lebaran yg penuh dengan nuansa kebahagiaan, mempererat hubungan talisiloturohim bersama kedua orang tua dan keluarga tercinta..
Ada sedih terlintas dalam benak ini ketika mendengar suara takbir bergema di seantero negeri ini, lebaran kali ini aku lewatkan bersama teman-teman dari sulawesi yang bernasib sama denganku, mungkin bedanya mereka telah terbiasa dengan keadaan seperti ini, sementara aku...
Bersama teman, aku melewati malam lebaran di Parang tritis sambil menikmati jagung bakar, pengalaman unik yang baru aku nikmati, jika dibandingkan malam lebaran di kampung biasanya duduk di benteng keraton bersama teman dekat SMA sembari menikmati suasana langit kota Bau-Bau yang gemerlap dengan warna-warni kembang api layaknya malam tahun baru, suasana yang sangat berbeda...
Setelah sehari sebelum lebaran, aku sempat berwisata ke Taman Kaliurang
Udara yang sejuk menyambutku
Kawasan pegunungan hijau yang disuguhi hutan sangat elok di pandang mata.
Namun,sekalipun aku baru ke tempat ini ada perasaan yang entahlah, mungkin aku terlalu merindukan orang tua di sana, biasanya sehari sebelum lebaran aku menyempatkan diri membantu meringankan kerja bunda di dapur, mempersiapkan segala sesuatu untuk hari-H...
Malamnya ku masih terjaga dengan sedikit persiapan buat lebaran besok sementara badan ini perlu istirahat yang cukup,,, syukurlah ada abang dan teman2 kosan yang saling pengertian dan turut berpartisipasi...
Hari H lebaran....
Ada haru, senang, sedih, bahagia bercampur jadi satu ketika menghadiri sholat I'ed di Masjid kampus yang arsitektur memadukan kebudayaan Tionghoa, India, dan Jawa.
Beberapa jam kemudian,, kami berkumpul dan mencicipi makanan yang sudah siap saji. Alhamdulillah aku baru sadar kalau resep baru racikanku tidak mengecewakan, kebahagiaanku bertambah ketika mendengar suara my parents di telpon,, Suara yang sangat aku nanti-nantikan. Thanks Mom sapaamu masih sehangat dulu, selayak mentari yang selalu tersenyum ramah menyambut pagi..
Sekarang saatnya jalan-jalan ke Wonosari bersama teman2 tercinta...
Pemandangan sawah yang menyehatkan mata
Air terjun yang menyejukkan
Kawasan pantai yang tenang
Perjalanan dua hari ini seakan membius ku,, lebaran terasa seperti hari-hari biasa...
Terimakasih kawan untuk kebersamaan, pengertian dan solidaritasnya.
Aku bangga dan bahagia jadi bagian dari kehidupan kalian.
Danke Auf Wiedersehen...
Jika maaf itu bisa terucap hari ini, untuk apa menunggu hari esok atau lusa
Sedangkan hembusan napas pun kian memburu,
kita tak pernah tau kapan akan berhenti..
Untuk itu, Jangan pernah lelah memberi maaf
Dan janganlah lelah memaafkan orang lain,, karena sang Pencipta selalu datang dengan sejuta lautan maaf kepada hambaNya yang mau mengakui segala dosa dan kekhilafannya.. terus bagaimana dengan kita??
Telat di tulis...
Saat mata masih terjaga
awal yangg cukup berat jika diingat-ingat,
Sementara ribuan kilometer di sebelah tenggara Sulawesi saudara-saudaraku sedang bergembira ria berkumpul menikmati suasana lebaran yg penuh dengan nuansa kebahagiaan, mempererat hubungan talisiloturohim bersama kedua orang tua dan keluarga tercinta..
Ada sedih terlintas dalam benak ini ketika mendengar suara takbir bergema di seantero negeri ini, lebaran kali ini aku lewatkan bersama teman-teman dari sulawesi yang bernasib sama denganku, mungkin bedanya mereka telah terbiasa dengan keadaan seperti ini, sementara aku...
Bersama teman, aku melewati malam lebaran di Parang tritis sambil menikmati jagung bakar, pengalaman unik yang baru aku nikmati, jika dibandingkan malam lebaran di kampung biasanya duduk di benteng keraton bersama teman dekat SMA sembari menikmati suasana langit kota Bau-Bau yang gemerlap dengan warna-warni kembang api layaknya malam tahun baru, suasana yang sangat berbeda...
Setelah sehari sebelum lebaran, aku sempat berwisata ke Taman Kaliurang
Udara yang sejuk menyambutku
Kawasan pegunungan hijau yang disuguhi hutan sangat elok di pandang mata.
Namun,sekalipun aku baru ke tempat ini ada perasaan yang entahlah, mungkin aku terlalu merindukan orang tua di sana, biasanya sehari sebelum lebaran aku menyempatkan diri membantu meringankan kerja bunda di dapur, mempersiapkan segala sesuatu untuk hari-H...
Malamnya ku masih terjaga dengan sedikit persiapan buat lebaran besok sementara badan ini perlu istirahat yang cukup,,, syukurlah ada abang dan teman2 kosan yang saling pengertian dan turut berpartisipasi...
Hari H lebaran....
Ada haru, senang, sedih, bahagia bercampur jadi satu ketika menghadiri sholat I'ed di Masjid kampus yang arsitektur memadukan kebudayaan Tionghoa, India, dan Jawa.
Beberapa jam kemudian,, kami berkumpul dan mencicipi makanan yang sudah siap saji. Alhamdulillah aku baru sadar kalau resep baru racikanku tidak mengecewakan, kebahagiaanku bertambah ketika mendengar suara my parents di telpon,, Suara yang sangat aku nanti-nantikan. Thanks Mom sapaamu masih sehangat dulu, selayak mentari yang selalu tersenyum ramah menyambut pagi..
Sekarang saatnya jalan-jalan ke Wonosari bersama teman2 tercinta...
Pemandangan sawah yang menyehatkan mata
Air terjun yang menyejukkan
Kawasan pantai yang tenang
Perjalanan dua hari ini seakan membius ku,, lebaran terasa seperti hari-hari biasa...
Terimakasih kawan untuk kebersamaan, pengertian dan solidaritasnya.
Aku bangga dan bahagia jadi bagian dari kehidupan kalian.
Danke Auf Wiedersehen...
Jika maaf itu bisa terucap hari ini, untuk apa menunggu hari esok atau lusa
Sedangkan hembusan napas pun kian memburu,
kita tak pernah tau kapan akan berhenti..
Untuk itu, Jangan pernah lelah memberi maaf
Dan janganlah lelah memaafkan orang lain,, karena sang Pencipta selalu datang dengan sejuta lautan maaf kepada hambaNya yang mau mengakui segala dosa dan kekhilafannya.. terus bagaimana dengan kita??
Telat di tulis...
Saat mata masih terjaga
Rabu, 02 November 2011
Kesudahan yang Berlawanan
Tat kala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orang tuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam sholatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah sholat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran, bahkan hingga aku bertanya pada diri sendiri : “ alangkah sabarnya mereka… setiap hari begitu… benar-benar mengherankan !”. aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah sholatnya orang-orang pilihan… mereka bangkit dari tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang.tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat ku terima dan ku dengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku sholat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu ku nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di sampng menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bantuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah ku lupakan.
Ketika aku dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan, kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis, keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat :
Ucapkanlah “Laailaaha Illallah… Laailaaha Illallah…” perintah temanku. Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat… kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ngulang bacaan syahadat. Tetapi…keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah kata pun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai berbicara. Ia tak berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khotimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata :” manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukannya selama ini di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku sholat khusyu’ sekali. Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak ku kenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu aku benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam dalam kenikmatan seperti sedia kala. Mungkin ini ada kaitannya dengan lagu yang pernah ku dengar dari dua orang yang sedang sekarat dulu
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kemps. Ketika berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang teman (bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama red) cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama. Ketika mengangkatnya ke mobil kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkan tubuhnya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah!” dalam kondisi kritis seperti itu, ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an?. Darah mengguyur seluruh pakaiaannya ; tulangtulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-qur’an dengan suara merdu. Selama hidupku aku tak pernah mendengar suara bacaan Al-qur’an seindah itu. Dalam batinku aku bergumam sendirian : “ Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu…apalagi aku sudah punya pengalaman”. Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seakan terkena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-qur’an yang merdu itu. Sekoyong-koyong tubuhku tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba suara itu terhenti. Aku menoleh ke belakang. Ku saksikan dia mengancungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Ku pegang tangannya, detak jantung nafasnya tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku mulai memandangnya lekat-lekat, air mataku menetes, ku sembunyikan tangisku, takut diketahui oleh temanku. Ku kabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui dengan pasti kapan jenazahnya disholatkan. Mereka ingin memberi penghormatan yang terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyolatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah korban. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan sebetulnya korban hendak menjenguk neneknya di kampung. Pekerjaan itu rutin dia lakukan setiap hari senin. Di sana korban juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset murotal. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan padanya tentang kejenuhan dalam perjalanan, ia menjawab dengan halus : “justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ngulang bacaan Al-qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset murotal, aku mengharap ridho Allah pada setiap langkah kaki yang ku ayunkan” Kata mendiang.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalan liang lahat yang sempit, korban dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas agama Rosulullah”.
Pelan-pelan kami menimbunnya dengan tanah…Mintahlah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Mendiang menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…
Dan aku…sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khotimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman surga. Amin…
Sebuah kisah nyata dengan sedikit perubahan semoga menjadi pelajaran bagi kita semua
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang.tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat ku terima dan ku dengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku sholat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu ku nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di sampng menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bantuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah ku lupakan.
Ketika aku dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan, kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis, keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat :
Ucapkanlah “Laailaaha Illallah… Laailaaha Illallah…” perintah temanku. Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat… kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ngulang bacaan syahadat. Tetapi…keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah kata pun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai berbicara. Ia tak berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khotimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata :” manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukannya selama ini di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku sholat khusyu’ sekali. Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak ku kenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu aku benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam dalam kenikmatan seperti sedia kala. Mungkin ini ada kaitannya dengan lagu yang pernah ku dengar dari dua orang yang sedang sekarat dulu
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kemps. Ketika berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang teman (bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama red) cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama. Ketika mengangkatnya ke mobil kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkan tubuhnya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah!” dalam kondisi kritis seperti itu, ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an?. Darah mengguyur seluruh pakaiaannya ; tulangtulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-qur’an dengan suara merdu. Selama hidupku aku tak pernah mendengar suara bacaan Al-qur’an seindah itu. Dalam batinku aku bergumam sendirian : “ Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu…apalagi aku sudah punya pengalaman”. Aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seakan terkena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-qur’an yang merdu itu. Sekoyong-koyong tubuhku tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba suara itu terhenti. Aku menoleh ke belakang. Ku saksikan dia mengancungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Ku pegang tangannya, detak jantung nafasnya tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku mulai memandangnya lekat-lekat, air mataku menetes, ku sembunyikan tangisku, takut diketahui oleh temanku. Ku kabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah sakit…kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui dengan pasti kapan jenazahnya disholatkan. Mereka ingin memberi penghormatan yang terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyolatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah korban. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan sebetulnya korban hendak menjenguk neneknya di kampung. Pekerjaan itu rutin dia lakukan setiap hari senin. Di sana korban juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset murotal. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan padanya tentang kejenuhan dalam perjalanan, ia menjawab dengan halus : “justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ngulang bacaan Al-qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset murotal, aku mengharap ridho Allah pada setiap langkah kaki yang ku ayunkan” Kata mendiang.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalan liang lahat yang sempit, korban dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas agama Rosulullah”.
Pelan-pelan kami menimbunnya dengan tanah…Mintahlah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Mendiang menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…
Dan aku…sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khotimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman surga. Amin…
Sebuah kisah nyata dengan sedikit perubahan semoga menjadi pelajaran bagi kita semua
Selasa, 01 November 2011
Tuhan Ajari Aku Cinta
Biarkan cinta ku serahkan pada Tuhanku
Tak pandai diri ini berlaku untuk sebuah rasa yang maha indah itu
Aku takut keliru memaknainya hingga lalai dari Cinta-Nya
Biarkan bait-bait hari jua yang akan menjawabnya
Entah kapan,
Pada hari yang tak pernah ku duga
Karena janji Allah itu benar
Maka aku tak hendak menuntut pada sebuah catatan yang tak pasti
Karena cinta terlalu indah untuk dipuja
Karena ku terlalu lemah untuk menata rasa
yang kadang membuat diri ini lena dalam laku aneh yang tak terjaga
Entah kapan, siapa dan bagaimana
Aku tak mau mendahuluiNya
Biarkan cinta itu mengalir seperti air
Kehidupan yang akhirnya bermuara kepadaNya
Semua menjadi bait-bait cinta yang tersimpul
Untuk sebuah bangunan yang maha megah itu
Ya,semua akan terjawab di suatu hari nanti dalam perjumpaan yang indah
Tuhan... ajari aku cinta
Cinta terindah dari bait-bait cinta
Yang senantiasa kau senandungkan untukku...
Tak pandai diri ini berlaku untuk sebuah rasa yang maha indah itu
Aku takut keliru memaknainya hingga lalai dari Cinta-Nya
Biarkan bait-bait hari jua yang akan menjawabnya
Entah kapan,
Pada hari yang tak pernah ku duga
Karena janji Allah itu benar
Maka aku tak hendak menuntut pada sebuah catatan yang tak pasti
Karena cinta terlalu indah untuk dipuja
Karena ku terlalu lemah untuk menata rasa
yang kadang membuat diri ini lena dalam laku aneh yang tak terjaga
Entah kapan, siapa dan bagaimana
Aku tak mau mendahuluiNya
Biarkan cinta itu mengalir seperti air
Kehidupan yang akhirnya bermuara kepadaNya
Semua menjadi bait-bait cinta yang tersimpul
Untuk sebuah bangunan yang maha megah itu
Ya,semua akan terjawab di suatu hari nanti dalam perjumpaan yang indah
Tuhan... ajari aku cinta
Cinta terindah dari bait-bait cinta
Yang senantiasa kau senandungkan untukku...
Kamar yang Bergejolak
Entah apa yang ku rasakan saat ini
Hatiku gelisah sejak mengenalmu hari itu
Aku tak bisa menghela rasa ini
Sungguh...
Sejujurnya ku telah jatuh cinta saat itu
Mengenalmu membuatku tenang menjalani hidup
Ku benar-benar mencintaimu
Ku tak tahu
Mungkin caraku mengungkapkan perasaan ini terlihat aneh
Tapi itulah,
Cinta telah membuat seseorang mengalahkan segala logika
Terserah kau menilai seperti apa aku
sungguh,
Ku telah meraup debu
Dan ku hisap demi kata itu
Ku tersedak karenanya
Karena rindu yang belum lebur
Maka siapakah yang mengira debu-debu rinduku hingga redam?
Rinduku telah menggunung salju
Karena tak seorang pun yang menyinarinya hingga cair
Bolehkah ku mereguk indah cinta bersamamu
Karena napas ini terisi selaksa desah rindu padamu
Maka bolehkah ku menjadi bulan purnama bagi langit hatimu
Bidadariku..
Entah mengapa hatiku gelisah setai bertemu engkau
Sayap hatiku retak
Mengepak ke semua penjuru
Tak kuasa menahan gejolak hati denganmu
Bidadariku
Meneliti setiap gurat wajahmu
Membuatku tak sempat memikirkan yang lain kecuali dirimu
Kau adalah wanita yang mencuri hatiku
Aku tercekat dalam bayangmu
Tak mampu keluar meski sejenak...
Saat malam mulai renta
Kamar inspirasiku, Yogyakarta.
Yang tercuri hatinya
Hatiku gelisah sejak mengenalmu hari itu
Aku tak bisa menghela rasa ini
Sungguh...
Sejujurnya ku telah jatuh cinta saat itu
Mengenalmu membuatku tenang menjalani hidup
Ku benar-benar mencintaimu
Ku tak tahu
Mungkin caraku mengungkapkan perasaan ini terlihat aneh
Tapi itulah,
Cinta telah membuat seseorang mengalahkan segala logika
Terserah kau menilai seperti apa aku
sungguh,
Ku telah meraup debu
Dan ku hisap demi kata itu
Ku tersedak karenanya
Karena rindu yang belum lebur
Maka siapakah yang mengira debu-debu rinduku hingga redam?
Rinduku telah menggunung salju
Karena tak seorang pun yang menyinarinya hingga cair
Bolehkah ku mereguk indah cinta bersamamu
Karena napas ini terisi selaksa desah rindu padamu
Maka bolehkah ku menjadi bulan purnama bagi langit hatimu
Bidadariku..
Entah mengapa hatiku gelisah setai bertemu engkau
Sayap hatiku retak
Mengepak ke semua penjuru
Tak kuasa menahan gejolak hati denganmu
Bidadariku
Meneliti setiap gurat wajahmu
Membuatku tak sempat memikirkan yang lain kecuali dirimu
Kau adalah wanita yang mencuri hatiku
Aku tercekat dalam bayangmu
Tak mampu keluar meski sejenak...
Saat malam mulai renta
Kamar inspirasiku, Yogyakarta.
Yang tercuri hatinya
Langganan:
Komentar (Atom)
















