Maaf sebelumnya, mungkin kamu anggap aku pengecut, atau menganggapnya suatu kelancangan. Sehingga tak berani memberikan surat ini secara langsung. Namun bagaimana juga, aku tak akan mungkin terus berdiam diri, sementara hatiku setiap waktu terus tersiksa. Maka setelah sekian lama ku terbelenggu dalam ketidakpastian yang teramat menyiksa jiwa dan pikiran akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri, mencurahkan segenap rasa yang ada dihatiku sama kamu lewat surat ini.
Entahlah dari mana awalnya, semenjak pertemuan kita yang telah berulang kali, hapir tak sekejap mata pun aku bisa melupakan bayanganmu. Aku senantiasa teringat kamu. Sama senyummu, sama kelembutan tutur katamu, sama semua yang ada pada dirimu. Berulang kali aku mencoba untuk menyadari dan meyakinkan diri, bahwa tak pantas bagiku untuk berhayal dan berharap menjadi seseorang yang berarti buat kamu. Namun rupanya, jiwa ini tak mau mengerti. Jiwaku terus memberontak, terus mencari nurani yang membuatku semakin tersiksa dan menderita.
Aku tak tau apa yang ada dibenakmu saat ini, aku juga tak tau apakah di taman hatimu masih kosong, sehingga aku bisa menanam sekuntum bunga cintaku atau justru di taman hatimu telah tumbuh bunga cinta yang lain. Karena itu, bila ternyata apa yang aku lakukan ini kamu anggap suatu kelancangan dan kesalahan, serta menurutmu aku ini terlalu bermimpi, berharap yang berlebihan tanpa mau berkaca diri, sekali lagi tolong maafkan aku.
Rasa cinta, memang kadang membuat orang jadi buta hatinya. Dan kini aku baru menyadarinya. Tipa saat, tiap waktu, tiap menit, tiap detik, jiwaku terus menggelora . sehingga aku pun bertanya seperti inikah yang namanya jatuh cinta? Ah, kiranya aku tak terlalu muluk-muluk melambungkan hayal, yang jika jatuh akan membuat hati hancur berkeping-keping bahkan mungkin menjadi serpihan tajam, yang kian menusuk sanubari.
Mungkin ini adalah hari terakhir pertemuan kita di kota ini. Sebab aku akan pergi, entah kemana. Aku tak tau, karena aku hanya akan mengikuti kata hati dan nuraniku.
Mulanya aku bermaksud untuk tetap bertahan di kota ini, namun aku pikir untuk apa? Tak ada yang bisa diharapkan disini. Karena orang yang aku cintai ternyata hatinya sudah membeku dan tak bisa dicairkan.
Meskipun kamu tak bisa menerima dan membalas cintaku, namun aku berharap kiranya kamu mengizinkan aku untuk membawa cintaku yang tulus ini dan sepenuh hati ini pergi. Biarlah kebersamaan kita selama ini, akan aku jadikan kenangan indah setiap waktu dan senantiasa mengingatkan aku padamu.
Aku memang terlalu naïf. Aku harusnya bercermin dan mengukur diri dulu, sebelum berkhayal dan berharap mampu memetik bintang. Aku semestinya sadar, kalau aku hanyalah si punguk. Manalah mungkin aku akan bisa memetik bintang yang tinggi di langit sana...
Sekali lagi, aku mohon maaf atas kelancangan yang telah aku tunjukkan sama kamu. Aku berharap dengan maaf dari kamu, langkahku akan jadi mudah
Selamat tinggal dewi pujaan…
Doaku semoga kamu akan selalu dalam kebahagiaan dan akan mendapatkan cinta dari seseorang sebagaimana yang kamu idam-idamkan.
Yang tercuri hatinya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar